Friday, 6 November 2015

Sosok Ayah mempunyai peranan penting dalam perkembangan anak sejak lahir hingga dewasa. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Kristen Finello, disebutkan bahwa berbagai riset yang telah dilakukan mengerucut pada satu kesimpulan yang sama, yaitu:

Anak-anak dengan ayah yang lebih terlibat dalam pengasuhan menunjukkan kelebihan dalam aspek sosial dan akademis, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak dekat dengan ayahnya.

Dalam artikel tersebut diungkapkan juga penelitian-penelitian yang telah dilakukan di beberapa universitas di seluruh dunia. Di antaranya penelitian di University of Illinois. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan ayah yang meluangkan waktu untuk menanyakan tentang apa yang mereka pelajari di sekolah, menanyakan aktivitas mereka sehari-hari, dan menanyakan hubungan sosial mereka dengan lingkungannya menunjukkan prestasi belajar yang lebih baik di sekolah dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki hubungan tersebut dengan ayahnya.

Dari hasil studi terhadap 17.000 anak sekolah di Inggris, para peneliti dari University of Oxford, Inggris, juga menyimpulkan hal yang sama mengenai keterlibatan paternalistik dengan kesuksesan akademis.

Eirine Flouri salah seorang psikolog yang melakukan riset tersebut mengatakan, “Ayah yang terlibat dalam pengasuhan adalah ayah yang biasa membacakan buku untuk anaknya, mengajak anaknya main di luar, memperhatikan pendidikan anaknya, dan mengambil porsi yang sama dengan ibu dalam mengasuh anaknya.” Anak dengan tipe ayah yang seperti ini umumnya memperoleh nilai yang lebih bagus dalam pelajaran di sekolah.

Secara umum, ayah merupakan tulang punggung keluarga. Seringkali waktunya banyak teralokasikan hanya untuk mencari nafkah. Di antara kesibukannya yang luar biasa, bagaimanakah cara menyiasati agar ayah tetap berperan dalam pengasuhan anak? Jangan sampai karena kesibukan, anak-anak tumbuh tanpa ayah. Ayah hadir secara fisik, namun tak pernah menyapa secara psikis. Seberapa penting peran ayah dalam pengasuhan anak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebuah komunitas bernama Kampung Keluarga menghadirkan Ibu Elly Risman, Psi sebagai narasumber dalam sebuah seminar yang bertajuk Peran Ayah dalam Pengasuhan. Seminar yang akan berlangsung pada hari Sabtu, 21 November 2015 di daerah Kuningan ini akan memberikan informasi dan inspirasi pada para orangtua, khususnya para ayah ataupun calon ayah tentang bagaimana perannya dalam mengasuh anak-anak.
Sumber : http://health.liputan6.com/read/2358563/peran-ayah-bagi-perkembangan-anak?ref=yfp

Thursday, 5 November 2015


Tetaplah Istiqomah 

Copas dari ust. Felx Siauw, utk catatanku, utk pengingatku..next.
1. Sering kita merasa punya sesuatu, memiliki sesuatu | padahal kita tak pernah memiliki sesuatu selain amal salih
2. Itu parahnya saat dunia sudah masuk ke dalam hati | bila sudah merasa memiliki, saat lepas depresi
3. Bayangkan saja, kita lahir di dunia telanjang tak membawa apapun | dasarnya apa kita merasa susah bila hanya kembali ke posisi awal?
4. Kebanyakan manusia memang seperti firman Allah di surah Al-Fajr | bila diuji keluasan dia memuji Allah, bila diuji kesempitan dia marah
5. Padahal luas sempit, kaya miskin, itu semua ujian kehidupan | tapi karena rasa memiliki itu, dunia berubah jadi candu
6. Mendadak kita lupa arti hidup di dunia, terjebak hanya mencari nikmat disini | kita lupa disini hanya perantara menuju keabadian
7. Akhirat bisa didapat dengan kaya, bisa juga dengan miskin | tapi kalau kita merasa harus kaya, disitu kita sudah salah
8. Namanya perantara boleh berubah, yang tak boleh berubah itu tujuan | Islam mudah, tujuan hidup bisa dicapai dengan banyak jalan taat
9. Kemarin tak punya apa-apa, lalu Allah beri harta, lalu harta sirna | alasan apa yang buat kita sedih? toh dulu kita orang tak punya?
10. Bukannya harusnya kita bersyukur dan berfikir "setidaknya dulu aku pernah kaya" | dibanding berfikir "kenapa Allah jadikan miskin?!"
11. Dulu jalan kaki, naik motor, lalu dengan mobil, semangat dakwah | ketika mobil sudah tak ada, seolah jadi alasan untuk tidak dakwah?
12. Padahal saat tak punya kita juga biasa saja | mengapa saat diambil lagi, kita malah binasa?
13. Dunia ini seadanya saja, ikuti saja, tak perlu ikut gaya hidup | gaya hidup itu bisa berubah, iman yang harus tetap
14. Dikasi miskin iman mantap, dikasi kaya iman tambah mantap, miskin lagi iman tetep mantap | itu baru lulus ujian, itu baru benar
15. Amal salih itu boleh naik jangan turun, karena itu tujuan kita | dunia boleh naik dan turun, itu hanya perantara
16. Rezeki itu dari Allah, sudah ditentukan, hidup itu sederhana | kita yang buat susah dan rumit dengan standar yang beragam macam
17. Tugas kita jelas, menjadikan semua kondisi yang Allah beri sebagai modal amal salih | apapun kondisinya, yang penting kita bisa taat